SMK Jurusan TI & Multimedia, Bagian – 2

SMK – TKJ

Sekolah Menengah Kejuruan Teknik Komputer Jaringan merupakan salah satu jurusan favorit di Indonesia saat ini namun juga berada di persimpangan jalan. Mengapa demikian? Semua bermula dari kebutuhan SDM yang memiliki keahlian bidang Sistem Jaringan dan Manajemen Server. Kebutuhan ini sulit dipenuhi oleh lulusan SMK bahkan yang masih tercatat sebagai mahasiswa dan S-1 karena kualifikasi lulusan yang dihasilkan dan dibutuhkan belum memenuhi standar dasar dunia kerja/industri.



Jika ada yang memenuhi standar kualifikasi umumnya adalah mereka rata-rata sudah bekerja kemudian kuliah di jurusan yang sesuai dengan pekerjaannya hingga mendapatkan gelar S-1. Ketika ada kesempatan pindah maka kesempatan diterima lebih terbuka karena sudah memiliki pengalaman. Bagi mereka yang belum pernah bekerja dan atau belum memiliki pengalaman kerja semasa kuliah pada akhirnya kesempatan diterima lebih kecil. Pihak industri menginginkan SDM yang memiliki kualifikasi dengan batas usia yang terkadang hampir mustahil dipenuhi kecuali mereka yang berpengalaman, dan pihak sekolah/kampus cenderung tidak atau belum ingin menerima masukan bila lulusannya belum memenuhi kualifikasi. Pertanyaan yang muncul adalah salahnya apa, salahnya di mana dan caranya bagaimana cara menyelesaikannya. Kondisi tersebut ibarat lingkaran setan dan hampir tanpa ujung.

SMK jurusan TKJ merupakan SMK dengan materi pembelajarannya adalah tentang Teknologi Komputer dan Jaringan Komputer. Pengetahuan tentang perangkat komputer, sistem operasi dan aplikasi, ilmu jaringan komputer, perencanaan sistem jaringan, isntalasi jaringan komputer, instalasi & manajeman jaringan (server – client) serta perawatannya dipelajari sejak awal masuk SMK hingga lulus termasuk ujian kompetensi keahlian. 

Kebutuhan utama dunia industri/kerja terhadap lulusan SMK adalah kesiapan siswa-siswi TKJ menghadapi

  1. Budaya Kerja
  2. Disiplin Kerja
  3. Tanggung jawab Kerja
  4. Kemampuan Beradaptasi
  5. Kemampuan Menyelesaikan Pekerjaa (problem solver)
  6. Bekerja Sesuai Target
  7. Mampu Mengembangkan Diri dan Pekerjaan

SMK jurusan TKJ pola pendidikan yang diterapkan harus menyesuaikan dengan kebutuhan industri maksudnya adalah kebutuhan dasar bekerja dengan keahlian (skill) yang memenuhi standar dasar. Jadi, bukan dimaksud harus memiliki keahlian yang sudah sangat tinggi karena tidak mungkin menyelaraskan antara usia, sikap, tindakan, pola pikir, keahlian, tanggung jawab, moral dan kemampuan adaptasi lulusan SMK dengan keahlian tinggi yang disyaratkan. Umumnya, memiliki keahlian tinggi di usia yang masih dini cenderung memiliki pola sikap yang kurang memiliki sikap tanggung jawab terhadap amanat yang dibebankan.

Di sisi lain, siswa lulusan SMK yang memiliki sikap dan tanggung jawab yang memenuhi standar kerja, keahlian yang dimiliki cenderung rata-rata dan umumnya memiliki kemampuan adaptasi yang baik. Peningkatan keahlian dapat ditingkatkan ketika mereka sudah masuk dunia kerja/industri sesuai dengan pola dan beragam kasus yang dihadapi sehingga kehalian yang dimilikinya sesuai dengan kebutuhan dan sikap serta budaya kerjanya sesuai dengan tempat mereka bekerja.

Secara ideal yang diinginkan adalah lulus SMK memiliki keahlian tinggi dan punya sikap, moral dan budaya kerja yang bagus, dan hal tersebut sulit terpenuhi. Moral, sikap dan kejujuran adalah syarat dasar bekerja dan berbisnis, oleh karena itu pola pendidikan di SMK harus diubah secara bertahap. Mendidik siswa mampu bekerja dalam tekanan adalah PR (pekerjaan rumah) besar setiap guru dan pihak sekolah.

Materi Pelajaran Normatif harus disesuaikan ulang untuk kebutuhan Materi Pelajaran Produktif. Penyesuaian ini adalah HARUS sehingga tidak terjadi perbedaan pendapat yang sebenarnya hal yang remeh temeh antara Guru-guru pengampu mata pelajaran noramtif dan produktif. Beberapa hal memang terkendala oleh panduan kurikulum baku yang cenderung tidak mengakomodasi kemampuan siswa, sekolah dan guru sekaligus. Selain itu seperti tidak terjadi Link & Match tetapi Grab & Match, maksudnya adalah kondisi yang ada di dunia industri/kerja dan teknologi yang beredar, diadopsi sedemikian rupa tanpa mempertimbangkan kondisi sekolah, guru dan siswa dan apa yang sebenarnya yang dibutuhkan oleh dunia industri/kerja.

Materi-materi pelajaran Normatif yang dibutuhkan oleh siswa SMK TKJ adalah

  1. Bahasa Indonesia: kemampuan menulis dan membaca (narasi, deskripsi, deduksi)
  2. Bahasa Inggris: (pronounciation, vocabulary, intonation, reading, writing, grammar)
  3. Matematika: (aljabar, logika, geometri, aritmatika, statistik dasar)
  4. Fisika/Elektronika
  5. Agama & Etika 
  6. Sejarah
  7. Olah raga & Prakarya
Materi tambahan lainnya menyesuaikan dengan kurikulum nasional dan lain-lain termasuk olahraga serta prakarya. Materi-materi tersebut di atas adalah materi dasar sebagai pengetahuan dasar siswa untuk memahami materi pelajran produktif TKJ. 
Adapun materi pelajaran Produktif yang dibutuhkan oleh siswa TKJ antara lain:
  1. Pengetahuan Dasar Komputer
  2. Praktek Perakitan Komputer
  3. Teori & Praktek Instalasi Operating System (Licensed’s OS)
  4. Teori Dasar Networking & Konversi Bilangan
  5. Praktek Networking: Konsep, Perancangan & Implementasi
  6. Pengenalan OS Opensource, Teori dan Praktek 
  7. Konsep & Praktek Komunikasi Data Sistem Jaringan
  8. Sistem Dokumentasi & kode Etik Profesi
  9. Manajemen Proyek LAN & Server
  10. Manajemen Server: Konsep, Implementasi, Troubleshooting, Dokumentasi
Praktek merupakan materi utama dalam program pembelajaran di SMK TKJ untuk materi produktif. Dan, sejak semester 1 kelas X sudah diperkenalkan pola praktek kerja yaitu melibatkan siswa bertanggung jawab mengawasi dan memelihara (maintain & Maintenance) unit-unit komputer dan jaringan sekolah berdasarkan dokumentasi pelaporan. Hal-hal sederhana dan rutin akan membentuk pola dan buadaya kerja siswa selama di SMK tanpa harus menjadi beban karena dikerjakan secara berkelompok dan diawasi ketat serta dibimbing dengan bertahap oleh Guru produktif dan staf laboratorium praktek. 
Memperkenalkan dan mengarahkan siswa menjadi siswa yang memiliki sikap bertanggung jawab tidak bisa dengan teori dan ujian tulis tentang materi etika dan pengetahuan profesi. Proses pendidikan dan pengajaran tentang tanggung jawab hanya bisa dengan praktek dan tugas rutin dan terstruktur serta teratur. Pengetahuan dan wawasan emngenai sikap tanggung jawab terhadap profesi di tempat kerja hanya bisa disampaikan oleh mereka yang pernah bekerja di lingkungan industri atau dunia kerja yang menuntut tanggung jawab dan pemenuhan target bisnis. 
Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana langkah menambah pengetahuan para Guru produktif yang belum atau tidak memiliki engalaman bekerja di dunia industri/bisnis? Cara termudah adalah merekrut profesional menjadi guru produktif. Cara kedua adalah menyekolahkan para guru produktif ke dunia industri dan hal ini cenderung hampir mustahil. Cara ketiga adalah sekolah bekerja sama dengan dunia industri/bisnis berbagi pengetahuan, memodifikasi kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan, menerapkannya dalam materi pembelajaran, mengawasi serta mengembangkannya. 
Pertanyaan terakhirnya adalah siapkah Sekolah – Guru – Orang Tua Siswa menjalin sinergi? Penerapan praktek tentang tanggung jawab kerja/profesi yang dituntut adalah ketegasan dan kedisiplinan membentuk mental siswa dan hal ini saat ini rentan mengenai hubungan antara siswa – sekolah – orang tua siswa. Menurunkan ego guru sebagai individu, ego sekolah sebagai manajemen penyelenggara pendidikan dan ego orang tua siswa menurut penulis, merupakan pekerjaan awal dimulainya sinergi untuk mendapatkan hasil lulusan yang sesuai dengan yang diharapkan. 
Bersambung ke Bagian – 3
Pustaka:

  1. Pengalaman Mengajar, SMK BI, Bintaro, 2011-2015
  2. Pengalaman Mengajar, SMP/SMA INRABB, BSD, 2015-2016
  3. Instruktur, Binus Center, Bintaro, 2010-2013
  4. Creative Director, BSL Print, Jakarta
  5. Marketing, BSL Engineering, Jakarta
  6. IT Dept Head, AUTRI, Jakarta