TIK – SMA
Mata Pelajaran TIK di SMA saat ini lebih banyak untuk kegiatan dokumentasi. Dan, itu sangat baik. Pertanyaan berikutnya apakah mata pelajaran TIK membuat siswa lebih paham tentang tujuan diadakannya mata pelajaran tersebut? Jika menyimak lagi kurikulum nasional, mata pelajaran TIK dari narasi tujuannya masih abu-abu dan materi-materi yang disebutkan seoebgetahuan penulis, tidak dijabarkan.
Baiklah, saya berbagi pengalaman saja. Mata Pelajaran TIK, sebaiknya diisi dengan materi-materi yang menantang siswa lebih kreatif dan mulai membuat karya yang bisa menjual dan tidak sekedar ide. Tujuan mata pelajran TIk adalah memberi bekal pengetahuan siswa tentang dunia Teknologi Informasi dan Komunikasinya. Sejak awal di semester 1 atau di kelas X sebaiknya dibekalkan kepada siswa tentang teknik menjual dari ide yang dimiliki. Menantang siswa untuk mewujudkan ide melalui TIK dan menjual ide tersebut.
Mau tidak mau, suka dan tidak suka, Guru sebagai pokok persoalan yang harus mampu membangkitkan sisi kreatifitas siswa. Materi apa aja sih yang harus disampaikan? Apakah yang canggih seperti bikin aplikasi mobile? Yakin nih? Apakah sudah memadai jika harus dan wajib mengajarkan aplikasi mobile? Tujuannya untuk apa mengajarkan aplikasi mobile? Tidak adakah materi lain yang lebih mendasar yang bisa diterima secara umum oleh seluruh siswa?
Sudah siapkah Guru pengampunya? Sudah siapkah sarananya? Sudah siapkah dengan peluang dan kesempatan pengembangannya? Apakah cukup hanya dengan memperkenalkan dan mengajarkan tanpa ada kesinambungan dari materi pelajaran yang sudah disampaikan? Bagaimana jika terjadi kegagalan dan tidak memenuhi target KKM? Apakah kualitas pengajaran ditingkatkan atau kualitas ujian mata pelajaran tersebut diturunkan?
Dari beberapa artikel yang saya baca akhir-akhir ini, ada materi-materi pelajaran yang menurut saya harus disampaikan lebih awal yaitu pelajaran logika, saya kutip dari Narendra Wicaksono – Dicoding. Pelajaran ini termasuk di dalam mata pelaaran matematika dan tidak hanya itu, logika menjadi titik awal untuk belajar Filsafat yang menjadi dasar Ilmu Pengetahuan. Pelajaran logika tidak hanya teori tetapi bagaimana memahaminya dan penerapannya di dunia nyata atau kegiatan siswa-sehari-hari. Ada baiknya pengampu mata pelajaran TIK mengambil materi Logika ini sebagai salah satu materi utama yang diajarkan terutama di semester satu dan dua sebelum mengenalkan materi tentang Coding atau pengenalan bahasa pemrograman (jika memang diperlukan materi pemrograman).
Kembali ke paragraf sebelum alinea di atas, bagaimana dengan kesiapan Guru? Tidak cukup hanya dengan mensyaratkan lulusan Strata-1 perguruan tinggi bahkan Strata-2 sekalipun jika yang disyaratkan hanya nilai IPK para calon Guru karena yang lebih utama adalah kemampuan menyampaikan materi kepada siswa serta kemampuan mengembangkan dan menambah materi pelajaran yang akan diampu. Apakah seleksi hanya cukup dengan tes psikologi dan wawancara terkait profesi dan jabatan guru? Tetap tidak cukup karena hal tersebut cenderung dapat diatasi mengingat jawaban yang disampaikan tujuannya adalah untuk lolos. Oleh karena itu perlu uji kemampuan praktek dan hal ini tentunya diperlukan penguji yang di atas rata-rata kemampuannya. dan menurut penulis, memang harus demikian, lebih lama waktu seleksinya. Menemukan kendidat Guru yang inovatif & kreatif tidak cukup hanya dengan pertanyaan normatif dan waktu singkat.
Pengalaman seleksi yang sedemikan detail di uji praktek akan membuat kandidat Guru tersebut akan menularkan pengalaman tersebut ke siswanya yaitu mengajarkan proses belajar yang benar. Kualitas karya tulis Guru sebenarnya dapat dinilai dari karya tulisnya ketika Skrpsi atau Thesis apakah murni hasil pikirannya atau hanya mengambil materi dari karya tulis lain tanpa ada pembahasan atau pengembangan ide tulisan tersebut. Hal ini yang paling sering terabaikan dan akhirnya tanpa sadar mempengaruhi cara sang Guru tersebut mengajar di kelas. Saat ini perkembangan teknologi membuat segalanya seolah secara instan dapat diperoleh dengan mudah padahal proses menghasilkan sesuatu yang terlihat instan ememerlukan pemahaman proses produksi yang panjang.
Pertanyaan selanjutnya adalah sarana yang diperlukan. Guru TIK membutuhkan laboratorium yang standar dan memadai bukan hanya menggunakan laboratorium Fisika, Kimia, Biologi yang sudah ada tetapi laboratorium yang menunjang proses belajar mengajar siswa. Laboratorium Elektronika & Komputer yang lebih diperlukan untuk pengenalan materi pelajaran TIK. Laboratorium Elektronika akan mempelajari tentang elektronika dasar misalnya pengetahuan tentang komponen elektronika, merakit komponen elektronika, pengetahuan kelistrikan, merancang atau mendesain PCB sederhana. Pelajaran yang terkait dengan hal-hal tersebuta adalah mata pelajaran Matematika, Fisika dan Kimia. Laboratorium Komputer sebagai saran belajar materi dasar pemrograman dan aplikasi (perangkat lunak) untuk menunjang proses belajar-mengajar selama di SMA yang akan bermanfaat setelah lulus misalnya aplikasi perkantoran, aplikasi grafis dan lainnya.
Selanjutanya adalah kesiapan mengambil peluang dan pengembangan materi pelajaran TIK. Ya, peluang menerapkan materi pelajaran TIK memerlukan keberanian dan komitmen dari setiap Guru penganmpu dan yang berafiliasi dengan materi tersebut serta dukungan penuh Sekolah dalam hal ini Kepala Sekolah & Manajemen Sekolah. Materi yang disampaikan tidak lagi materi standar hanya mengajarkan perangkat lunak Office atau Grafis, tidak akan cukup karena yang paling utama adalah untuk apa materi tersebut disampaikan, apa manfaat mempelajarinya, tujuannya apa memepelajari dan hasilnya apa mempelajari materi tersebut? Guru yang menyampaikannya harus paham tujuan akhirnya belajar tentang aplikasi perkantoran maupun aplikasi grafis. Catatan saja, jangan sampai tujuannya hanya untuk memangkan lomba LKS antar sekolah. Lanjut ke pengembangan materi TIK, apa yang hendak dikembangkan dari materi-materi TIK ketika disampaikan? Hal ini menujuk pada hasil akhir dari materi TIK tersebut, Tidak ada gunanya materi tersebut disampaikan hingga enam semester tetapi siswa tidak tahu manfaatnya untuk apa dan hasil akhirnya seperti apa.
Petanyaan menarik selanjutnya adalah sejauh mana materi TIK tersampaikan yaitu kesinambungan materi tersebut dengan kegiatan sehari-hari? Inilah yang penulis maksud dengan hasil akhir dari materi TIK yang diajarkan. Contoh, aplikasi perkantoran LibreOffice Writer, aplikasi berbasis Opensource ini merupakan aplikasi perkantoran untuk membuat dokumen yang setara dengan aplikasi berbayar MS Office Word. Mampukan siswa setelah belajar aplikasi tersebut dapat membuat surat keterangan Riwayat Hidup atau membuat Cerpen bahkan Cerita Bersambung yang kemudian dicetak dan dijilid menjadi sebuah buku? Nah, untuk lembar Riwayat Hidup atau CV dapatkah siswa mampu membuatnya dengan hasil yang menarik meskipun masih semester satu kelas IX?
Berikutnya adalah hasil dari penyampaian materi TIK yaitu seberapa tinggi tingkat kegagalan dan tidak terpenuhinya target KKM. Apakah akan menurunkan KKM atau menurunkan kualitas materi KKM demi tercapainya target KKM yang tinggi? Silahkan tersenyum bahkan tertawa karena saya pun demikian. hehehe. Penulis lebih mengedepankan kualitas penyampaian materi TIK untuk mendapatkan hasil belajar yang tinggi dengan nilai KKM yang wajar dan tidak terlampau tinggi, cukup rata-rata atau sedikit di atas rata-rata dan tidak membohongi diri sendiri. Kesalahan utama yang terjadi, maaf jika penulis menyampaikan demikian, KKM diteteapkan tinggi bahkan “harus” lebih tinggi dari sekolah sebelah demi terlihat KKM tinggi dan terlihat wah namun materi yang disampaikan masih sama dengan sebelumnya yang ujungnya adalah materi ujian yang diturunkan demi tercapainya target KKM yang sudah ditetapkan. Yang terjadi kemudian adalah jebakan dan jadi bumerang.
Pertanyaan akhir adalah Apakah kualitas pengajaran ditingkatkan atau kualitas ujian mata pelajaran tersebut diturunkan? Jawabannya adalah tergantung dari integritas & kualitas Guru dan Sekolah sebagai penanggung jawab dan ini seperti dua kalimat terakhir paragraf di atas. Bagi penulis, mengajar dan mendidik adalah dua hal yang berbeda. Mengajar belum tentu mendidik tetapi mendidik memerlukan cara mengajar yang tepat dan baik serta konsisten dan memiliki integritas diri.
Kualitas Guru jika tidak diikuti dengan komitmen, tanggung jawab, disiplin & kejujuran, keterbukaan, kerendahan hati serta kemampuan mempertahankan ide & pendapat, adalah tidak ada gunanya alias omong kosong dan hanya sebatas masuk kelas dan materi disampaikan, beri tugas dan selesai. Integritas diri seorang Guru sangat diperlukan demi terwujudnya kualitas pengajaran dan peningkatan kualitas siswa. Kesediaan berbagi ide, keterbukaan untuk berdiskusi dan membuka ruang menyampaikan pendapat dari setiap siswa menjadi landasan utama tercapainya kualitas pendidikan siswa selama mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah. Tentunya sikap tanggung jawab, disiplin dan hormat tetap sebagai pokok utama interaksi antar siswa dan Guru.
Pengalaman penulis, kesediaan diri membuka diri dengan pertanyaan-pertanyaan dari siswa dan kesediaan menerima pendapat/jawaban siswa adalah hal utama membangkitkan sisi kreatif dan keberanian siswa untuk lebih maju dalam berpikir. Koridornya adalah cara menjawab yang terstruktur, sopan, dengan bahasa yang baik & benar, dan memiliki alasan yang tepat dengan mengesampingkan jawaban tersebut benar atau salah. Tugas Guru yang memberikan pemahaman dan alasan logis sehingga jawaban yang disampaikan tersebut disebut Salah atau Benar sesuai kaidah. Berawal dari hal tersebut apda akhirnya akan mengarahkan siswa untuk lebih berani bertanya yang benar, berani menjawab pertanyaan dengan alasan yang kuat dan bersedia menerima jika yang dikemukakan belum tepat atau salah. Dan, Guru pun, harus bersedia menerima pendapat jika ternyata yang dikemukakan siswa adalah benar.
Belum terlambat untuk memulai semuanya dan memang harus dimulai, bukan lagi dibahas, dipertanyakan bahkan diperdebatkan. Hal ini yang menjadi alasan saya menulis artikel tentang materi pelajaran TIK. Berangkat dari kualitas siswa menghadapi tantangan setelah lulus sekolah, kualitas belajar mahasiswa terutama daya serap di mata kuliah informatika secara umum serta serapan SDM bidang teknologi informasi yang cenderung makin menurun dengan permintaan kualitas yang makin tinggi. Celah (gap) antara dunia pendidikan formal SMA-Universitas dengan dunia kerja cenderung makin jauh secara umum meskipun ada beberapa yang sudah mulai menerapkan kerjasama antara kampus – industri. Bagaimana dengan lingkungan SMA yang notabene lulusannya tidak semua masuk perguruan tinggi? Hampir 40% lulusan SMA masuk ke dunia kerja dan kurang dari 10% terjun ke dunia usaha. Apa yang mereka punya untuk masuk dunia kerja dan membuka usaha? Bukankah ilmu yang mereka peroleh ketika di semester 1 – semester 6 kelas X-XI-XII seharusnya dapat membantu mereka menjadi lebih siap dibandingkan mereka yang tidak dan atau belum bersekolah?
Sinergi antara Guru – Sekolah – Orang Tua murid adalah hal utama untuk mewujudkan sistem pendidikan yang sesuai di setiap sekolah masing-masing. Setiap sekolah memiliki keunikan dan ciri khasnya yang bisa menjadi sisi positif mengejar ketertinggalan kualitas dari negara maju lainnya. Salam Kebangkitan Nasional Indonesia.
- KBBI, https://kbbi.web.id/teknologi#fitur
- Wikipedia, https://id.wikipedia.org/wiki/Teknologi_informasi
- Pengalaman Mengajar, SMK BI, Bintaro, 2011-2015
- Pengalaman Mengajar, SMP/SMA INRABB, BSD, 2015-2016
- Instruktur, Binus Center, Bintaro, 2010-2013
- Creative Director, BSL Print, Jakarta
- Marketing, BSL Engineering, Jakarta
- IT Dept Head, AUTRI, Jakarta