Refleksi Diri – KEMERDEKAAN INDONESIA

Sudah 70 tahun Indonesia Merdeka. Kita merdeka dan membebaskan diri dari penjajahan seperti tertulis di buku sejarah. Digambarkan penjajahan itu kejam, bengis dan tak berperikemanusiaan. Penyiksaan, pemaksaan, pajak, perbedaan kasta sosial, hingga penculikan bahkan pemerkosaan.
Lengkap dan rinci penggambaran tentang sejarah kisah penjajahan. Beberapa bahkan dikisahkan kelicikan bangsa penjajah yang memaksa dan menawarkan jasa hingga beberapa penduduk bersedia menjual informasi. Tidak sekedar pembedaan strata dan hak, para penjajah memanfaatkan keilmuan untuk memecah belah. Ilmu sosial, antropologi, ekonomi, pertanian, politik, kesehatan hingga agama mereka manfaatkan.

Diceritakan bahwa penjajahan berlangsung 350 tahun diawali oleh Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda dan Jepang. Jejak-jejaknya pun masih dapat disaksikan mulai dari cerita rakyat, benteng pertahanan, gedung-gedung, gudang, pelabuhan, gereja, dermaga, stasiun, masjid, kebun, perusahaan, museum, peninggalan sejarah, laboratorium, aturan termasuk undang-undang, senjata hingga kendaraan bahkan buku-buku tentang keberadaan mereka di Indonesia, kisah penduduk pada masa datang juga sejarah vulkanologi.
Semua itu menjadi cerita dan kisah yang disikapi dengan kebencian dan ketidaksukaan. Menimbulkan rasa rendah diri, kesedihan dan sikap anti pati terhadap negara penjajah. Cerita-cerita itu kemudian menjadi bahan untuk diceritakan, digubah menjadi fragmen budaya seperti Ketoprak, Wayang, Puisi, Drama, Lagu, Novel hingga Film.
Saat ini beberapa menjadi tujuan wisata, tempat pertunjukan yang diselenggarakan oleh stasiun televisi, bahan dokumentasi untuk film dokumenter dan sebagainya yang tujuannya untuk kepentingan budaya dan ekonomi. Beberapa diantaranya difungsikan sebagai gedung negara dan gedung pemerintahan. Semua hal itu kini akhirnya menjadi bagian dari aktifitas ekonomi, politik, pemerintahan, budaya, wisata, pendidikan, kesehatan hingga laboratorium.
Pertanyaannya, sedemikian burukkah penjajahan yang dialami Indonesia? Benarkah itu kekuasaan penuh negeri penjajah? Tidak adakah andil bangsa ini sendiri yang membuat diri ini akhirnya dijajah dan terjajah? Lupakah kita dengan jasa para negeri penjajah selain para pahlawan kita? Tidak adakah kebaikan yang kita dapatkan dari mereka, para penjajah itu? Yakinkah kita dijajah, terjajah dan diperalat? Begitu lama kah penjajahan yang kita yakini yaitu 350 tahun?
Introspeksi diri menjadi refleksi diri, berkaca pada diri sendiri seperti apakah kita. Sebegitu lemah dan sangat baikkah kita? Sebegitu kuat dan burukkah kita sebagai bangsa? Tidak untuk menyalahkan orang lain. Tidak untuk menyalahkan diri sendiri. Untuk renungan demi kelangsungan negara dan berbangsa ini menuju ke 71 tahun, 80 tahun hingga ratusan tahun berikutnya. Pertanyaan terakhir sebelum kita sama-sama merenung, yakinkah Anda para pembaca bahwa Indonesia masih negara Indonesia di 5 tahun, 10 tahun, 25 tahun, 50 tahun, 100 tahun bahkan 300 tahun mendatang? Dan, masihkah kita tetap sebagai bangsa Indonesia?
Penjajahan, sebenarnya adalah kegiatan memaksakan suatu keadaan kepada suatu keadaan dengan aturan tertentu untuk tujuan menguasai dan mengambil manfaat. Apabila itu diberlakukan kepada suatu negara berarti pemaksaan atau penguasaan terhadap negara lain dengan pemberlakuan aturan-aturan yang sepihak dan tidak seimbang dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan di bidang politik, ekonomi, perdagangan, sosial, budaya, informasi, agama atau secara kemanusiaan.
Jika definisi penjajahan seperti tertera di atas maka hal itu berarti kedaulatan, kemerdekaan, keyakinan, integritas, harga diri dan kemampuan terhadap diri sendiri. Berarti hal tersebut mengarah pada persatuan dan kesatuan. Apa yang membuat bersatu? Kebersamaan. Kesamaan.
Kebersamaan dalam bergerak, melangkah, ketundukan dalam satu perintah. Kesamaan pemikiran, kesamaan visi, kesamaan tujuan dengan meniadakan perbedaan dan menjadikan  perbedaan sebagai modal dan bahan untuk melangkah.
Bagaimana dengan bangsa Indonesia saat dulu ketika masih terbagi dalam kerajaan dan kesultanan? Bagaimana dengan Indonesia kini? Dapatkah keadaan dan kondisi saat ini sebagai cermin di masa lalu yang ternyata seperti demikian? Apakah sudah bisa menjawab bahwa yakin kita dijajah karena kesalahan negara penjajah?
Sebelum menjawab dan menebak, mari kita baca dan ingat kondisi negara dan bangsa ini beberapa hari sebelumnya, beberapa minggu sebelumnya, beberapa bulan sebelumnya dan beberapa tahun sebelumnya, setelah itu ke beberapa belas tahun dan beberapa puluh tahun sebelumnya. Mudah marah, mudah dihasut, mudah berubah, seenaknya sendiri, menabrak aturan, curang, culas, licik, penuh intrik, bohong, tidak suka berdamai dan menyalahkan orang lain. Apalagi? Itu bisa kita baca, kita saksikan dari koran, media internet, televisi dan sebagainya bahkan sinetron dan komedi di beberapa acara televisi, perdebatan tanpa ujung dan aturan.
Kita renungkan dan bayangkan andaikata kondisi itu dimanfaatkan dengan memanipulasi, bagaimana hasilnya? Contoh yang paling dekat, tawuran. Tidak cuma antar sekolah SMP, SMA, SMK, yang mahasiswa pun begitu dan tawuran antar kampung lebih rutin. Apa masalahnya? Damai. Selesai? Akhirnya berulang lagi hanya karena rumor dan hal yang sepele. Inikah kemerdekaan? Kedaulatan? Kesatuan? Maukah kita sadar diri jika kita salah?
Contoh kasus yaitu batu akik. Bahkan berebut hingga harus bertengkar dan akhirnya batu di hutan Aceh yang sangat berharga sebagai situs sejarah pun dijarah. Sekarang berapa harganya? Apa manfaatnya? Menyesalkah mereka? Akhirnya kita semua sekarang tidak bisa lagi menikmati batu utuh di hutan tersebut yang sebenarnya bisa menjadi tujuan wisata.
Apalagi Pilkada. Hanya dengan beberapa lembar saja mereka bersedia bertengkar dan asal berteriak tanpa tahu jika hanya dimanfaatkan. Mari kita kembali ke definisi penjajahan. Kata kuncinya dimanfaatkan dan memanfaatkan.
Bolehkah kita menyebutkan diri kita bahwa kita dimanfaatkan atau dijajah secara budaya, secara ekonomi, secara politik bahkan secara manusia oleh pihak lain tanpa mau menyadarinya. IRONIS.
Marilah tertawa dan tersenyum jika memang itu benar. Silahkan marah jika itu tidak benar dan membantah. Bagi saya, itulah Indonesia. Mari sadar diri. Tidak ada guna meratap, tidak ada guna bersedih. Semua hasil karya penjajahan pun sekarang menjadi tujuan wisata. Istana Merdeka saja dibangun oleh mereka. Kebun Raya Bogor dan laboratorium Eijk Spilmann pun karya mereka.
Bangsa Indonesia ini terlalu mudah diperdaya dan sebenarnya Belanda tidaklah menjajah tetapi kita diperbudak oleh perusahaan dagang milik Belanda, yaitu VoC. Lebih ironis lagi. Sekarang? Sama saja dengan kita diperbudak oleh Freeport meskipun dalam lingkup propinsi Papua. Bedanya, Freeport masih berada di wilayah Indonesia dan masih bisa diatur. Yakin bisa diatur? Bagaimana dengan VoC? Mereka mengatur kerajaan di wilayah ini, mengatur penduduk untuk dipekerjakan bahkan mengatur pemerintahan Belanda mengirimkan pasukan yang VoC sendiri memiliki pasukan.
Saya sebagai penulis membatasi diri pada perjuangan yang heroik dari setiap kerajaan kemudian ke jaman pembaruan yaitu Budi Utomo, Sumpah Pemuda, Proklamasi hingga Reformasi. Ingin merenungkan mengapa kita dijajah, hingga kini pun masih terjajah oleh diri sendiri yang angkuh. Refleksi diri ini menjadi modal utama membangun diri menjadi Merdeka & Berdaulat. Merdeka secara pribadi dan berdaulat dalam berpendapat dan bertindak.
Portugis datang kemudian mengambil beberapa komoditi utama yaitu rempah dan juga penyebaran agama Nasrani. Saat ini kita menyadari bahwa di Timor, terdapat kerajaan berbasis Islam. Apa manfaatnya? Salah satunya adalah tumbuhnya agama Nasrani dan pemeluknya. Bahasa Tetun di Timor Timur yang sekarang menjadi Timor Leste yang merupakan bahasa campuran antara bahasa lokal dengan bahasa Portugis. Hampir sebagian besar wilayah Nusa Tenggara disinggahi oleh Portugis.
Negara berikutnya adalah Spanyol yang sampai saat ini peninggalannya tidak terlalu berarti. Negara berikutnya adalah Belanda, kemudian Inggris dan Belanda lagi setelah Inggris kalah perang melawan Belanda di wilayah Nusantara. Berikutnya adalah Jepang hingga kemudian kita Merdeka. Setelah itu? Saat sekarang pun  masih dijajah oleh hampir negara-negara yang memiliki kekuatan ekonomi, politik, perdagangan, informasi, budaya dan juga secara sosial. Siapakah mereka?
Mari kita merenungkan kembali dan merefleksikan lagi Kemerdekaan Indonesia.
MERDEKA & BERDAULAT !!!