Mendidik dan Mengajar

Sejak lama dua kata ini selalu bersinggungan, berseberangan dan beriringan. Sejak kapan diperdebatkan? Siapa saja yang dipermasalahkan.

Masalah yang dihadapi oleh guru-guru dan dosen adalah mereka bekerja dan juga mendidik. Dua pekerjaan yang mengedepankan profesionalitas di satu sisi dan integritas di sisi lain. Sebuah pisau dengan dua sisi sama tajam yang dapat dipergunakan kapanpun bahkan berujung lancip serta runcing. Pola keprofesian saat ini bergeser lebih ke profesional yang menggerus sisi integritas karena tuntutan ekonomi dan tanggung jawab profesi.

Manakah yang lebih utama, apakah integritas atau profesional terlebih dahulu? Jawabannya tergantung pada kebutuhan jangka pendek atau jangka panjang. Integritas bukanlah profesi yang bisa dicari berdasarkan ukuran pasti tapi lebih kepada moral pembawa diri masing-masing. Kualitas diri yang merujuk pada integritas seseorang lebih kepada pembawaan diri yang sedemikian lama ditempa dalam diri sejak dini, sejak awal dan itu hasil didikan lingkungan dan kemampuan mempertahankan prinsip yang diyakini oleh pribadi yang bersangkutan.

Profesional lebih kepada kemampuan hasil belajar dan penerapan hasil belajar dengan metode terukur. Ukuran-ukuran yang dibebankan atau ditampilkan adalah tingkat keberhasilan dan keakuratan (validitas) yang diakui sesuai ukuran-ukuran yang ditetapkan serta mampu mempertahankan kualitas yang ditampilkan atau ditunjukkan.

Contoh tentang profesional misalnya seseorang memiliki skill di bidang komputer, ambil contoh tentang kemampuan analisa data menggunakan tabel. Terdapat dua (2) orang yang memiliki kemampuan serupa yaitu keduanya sama memiliki pengetahuan tentang microsoft excel dan perhitungan tentang permutasi, kombinasi, median, nilai rerata dan sebagainya. Seorang A terbiasa dengan perhitungan dagang di sebuah toko bangunan selama tiga (3) tahun tanpa henti termasuk data penjualan, data distribusi barang, supllier, profit, jadwal pembayaran, jadwal penagihan, data pelanggan lama dan baru, kontraktor, tukang, termasuk data gaji karyawan serta keuntungan dan kerugian. Seorang B memiliki kemampuan administrasi dengan perhitungan tabel yang lebih bervariasi karena pola kerjanya variatif karena pernah bekerja di toko retail, perusahaan percetakan, perbankan, event organizer, perusahaan manufaktur yang walaupun berpindah-pindah tetapi bidang yang digeluti masih sama yaitu administrasi keuangan dan analisa data.

Kualitas skill dua orang tersebut di atas tentunya jauh di atas rata-rata mengingat intens dan rutinnya pekerjaan yang dijalani dan perbedaannya adalah wawasan A dan B yang tentunya berbeda. penentuan tingkat profesional masing-masing tentu disesuaikan dengan kebutuhan. Perusahaan atau instansi yang membutuhkan karyawan yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan tentang analisa data yang lebih menyasar pada rutinitas data pelanggan dan distribusi barang tentunya akan melihat peluang A lebih besar karena selain memenuhi kriteria rutinitas yang lebih lama tentunya lebih mudah bagi perusahaan untuk mendelegasikan pekerjaan tanpa harus lebih banyak memberikan arahan. Peluang B secara kasat mata tentunya lebih kecil karena meskipun memiliki pengalaman yang sama yaitu tiga tahun tetapi rutinitas di pekerjaan yang sama berbeda dan lebih pendek daripada A. Dari pengalaman dan uji praktek tentang analisa data tentunya A memiliki kecepatan dan keakuratan lebih baik karena rutinitasnya.

Peluang B menjadi lebih baik jika selain bisa menunjukkan kualitas yang sama baik dengan A namun juga memiliki wawasan yang lebih luas karena ragam data yang dianalisa lebih beragam. Perbandingan ini menjadi pedoman bagi perusahaan, siapa yang lebih profesional menurut kriteria mereka apakah dari kualitas pekerjaan karena rutinitas pekerjaannya atau kualitas penyelesaian pekerjaan berdasarkan ragam data yang dianalisa.

Integritas sesorang lebih kepada moral dan sikap diri dalam menghadapi masalah atau pekerjaan. Contoh sederhana adalah terdapat pekerja C dan D yang memiliki posisi berbeda di perusahaan yang sama dengan pendapatan berbeda namun memiliki pengalaman kerja yang sama yaitu sudah sama-sama lima (5) tahun bekerja.

C memiliki jabatan sebagai Manajer yang baru saja promosi dan mendapatkan gaji dan tunjangan hampir dua kali lipat, fasilitas tambahan dan tentunya memiliki staf dan ruangan tersendiri. D hingga saat ini masih menjadi Staff Senior yang posisi kerjanya selalu berpindah divisi setiap 6 bulan sekali dan menjadi kepercayaan setiap Manager di divisi tempatnya bertugas. Setiap Direktur yang berganti selalu menugaskan posisi Directive Investigation kepada D sebagai orang kepercayaannya karena laporan yang dibuat dapat diterima semua divisi.

Integritas yang dimiliki C berbeda dengan D jika melihat lingkup tanggung jawab dan kualitas hasil pekerjaannya. C dipilih karena selain karir yang sesuai dengan peniliaian juga saatnya perusahaan memberikan kesempatan untuk belajar memimpin divisi dengan beberapa staf yang menjadi tanggungjawabnya. Kualitas kepemimpinanya masih perlu diasah dan dibuktikan dalam beberapa waktu ke depan apakah mampu memimpin dengan kualitas kepemimpinan yang bisa dterima dan integritasnya yang semakin baik. Untuk hal itulah beberapa fasilitas tambahan menjadi daya tarik dan harga yang pantas diterima sesuai dengan beban pekerjaan yang diamanatkan.

D meskipun masih sebagai staf tetapi selalu menjadi staf yang dipercaya oleh setiap manager di manapun bertugas bahkan menjadi kepercayaan Direktur perusahaan untuk laporan yang bersifat khusus. Hal ini menunjukkan bahwa D tidak hanya memiliki kemampuan profesional yang dimiliki juga memiliki integritas yang selalu dipertahankan bahkan cenderung lebih baik dengan tetap mempertahankan kualitas kerja atau profesionalitas pekerjaannya. D menjadi contoh bagi setiap staf yunior perusahaan tersebut bagaimana menjalani pekerjaan dengan baik, menjadi rekan/partner yang baik bagi sesama staf termasuk yang senior juga disegani karena integritasnya yang dipercaya oleh setiap pimpinan di setiap divisi.

Ukuran keterpilihan antara C dan D berbeda dari sisi kualitas dan integritas. C teruji kualitasnya sehingga dipromosikan menjadi pimpinan dan integritas sebagai pimpinan sedang diuji apakah layak dipertahankan dalam waktu yang lama. D teruji kualitas pekerjaannya dan profesional tanpa memilih di mana ditempatkan dan integritasnya teruji dengan selalu terpilih sebagai orang kepercayaan pimpinan meskipun gaji dan fasilitas yang dimilikinya cenderung tetap dan tidak sebesar yang diterima C tetapi tetap profesional bekerja dan menjalankan tugas dari pimpinan dengan tetap mempertahankan kualitas pekerjaan. Integritas yang dimiliki D lebih teruji karena telah menjadi sosok yang penting di perusahaan tempatnya bekerja hanya kesempatan menduduki jabatan yang tinggal menunggu saat yang tepat.

Kembali ke tulisan di awal paragraf yaitu tentang mendidik dan mengajar, saat ini menjadi polemik bagi yang memiliki profesi Guru dan Dosen. Mendidik lebih dari sekedar mengajar. Mendidik lebih kepada contoh yang ditunjukkan. Mengajar lebih kepada memberikan arahan dan menjelaskannya.

Contoh sederhana mengajar adalah memberikan atau menjelaskan tentang suatu ilmu, menjelaskannya dan memberikan tugas. Mendidik lebih kepada memberikan pemahaman, maksud dan tujuan tentang ilmu yang dijelaskannya sehingga peserta didik tidak sekedar mengerti namun juga memahami dan menyerap serta diharapkan dapat menyampaikannya kepada yang belum mengerti. Mendidik lebih kepada mengajarkan ilmu sesuai dengan yang dipahami peserta didik dan mengajarkan bagaimana memiliki sikap bertanggung jawab dalam menjalankan sesuatu dan menyelesaikan tugas dan menyampaikannya kepada orang lain yang belum mengerti.

Mengajar sebatas memberikan penjelasan sesuai yang dipahami kepada peserta didik tanpa terlalu memikirkan peserta didik paham atau tidak tanpa perlu menjelaskan maksud dan tujuan dipelajarinya ilmu dimaksud. Jadi, lebih kepada profesi atau menyelesaikan tugas sebagai sebuah rutinitas dari sebuah pekerjaan yang akhirnya menjadi beban. Mengajar kecenderunganya adalah sebagai profesi sedangkan mendidik lebih luas lingkupnya. Kemampuan menjelaskan dan memahamkan persoalan adalah ciri utama mendidik karena bukan lagi sebatas mengajar tapi memberikan pemahaman dan menjelaskan filosofi dari yang diajarkan/disampaikan.

Guru atau Dosen yang mengajar dengan memiliki pendekatan moral cenderung lebih bisa diterima daripada dengan mengajar dengan cara kaku atau satu arah dan memaksa siswa memahami yang disampaikan. Hal terpenting adalah bagaimana menyampaikan ilmu yang disampaikan sehingga siswa mengerti sesuai dengan pemahaman mereka. Tidak mudah dan tugas utama seorang guru/dosen adalah menyampaikan ilmu yang dimiliki dan tentunya tidak sekedar disampaikan tetapi dipahamkan sesuai dengan pemahaman para peserta didik.

Oleh karena itulah mengapa Guru dan Dosen selalu belajar dan senantiasa belajar terutama belajar cara menyampaikan sehingga dapat dipahami dan dimengerti oleh siswa. Ide-ide dan cara-cara yang berbeda dalam menyampaikan adalah menjadi sisi kreatif dan menarik tentunya tidak mengubah substansi ilmu yang dipaparkan tetapi lebih kepada cara menjelaskannya dengan analogi sederhana dan dipertanggungjawabkan dari sisi keilmuan. Setiap siswa atau peserta didik memiliki cara berpikir yang berbeda terhadap sesuatu atau cara memahaminya berbeda sesuai dengan kemampuan berpikir dan wawasan yang dimiliki. Tugas Guru/Dosen menyampaikannya sesuai dengan cara yang lebih bisa diterima dan dipahami peserta didik.