Desain Grafis

Skema Desain Grafis
Lingkup Desain Grafis jika melihat skema di atas, boleh dikatakan sangat luas. Saya membagi tiga hal dari desain grafis yaitu: Vektor, Bitmap dan Video. Sebenarnya kategorinya adalah cetak, audio dan video. Nah, dengan adanya teknologi WEB, hal tersebut berubah lagi. Oleh karena itu, akhirnya pembagiannya menjadi vektor, bitmap dan video.


Jika melihat di sisi sebelah kanan skrma di atas, terbagi menjadi dua saja yaitu CMYK dan RGB. Pertanyaan kemudian adalah apakah hanya CMYK & RGB? Tidak, tentu saja tidak. Masih ada HSB, Pantone, dan lain-lain. CMYK & RGB yang umum disebut dan untuk mempermudah pemahaman tentang warna di bidang desain grafis.
Secara umum Desain Grafis mengenal desain vektor, bitmap dan video. Sementara kita sisihkan terlebih dahulu video. Desain berbasis Vektor umumnya digunakan untuk mendesain logo atau layout dengan ukuran yang besar dan resolusi tinggi sehingga akan menghasilkan hasil cetak yang sangat tajam. Kelebihan desain berbasis vektor, ukuran dimensi yang berubah tidak mempengaruhi resolusi kualitas image (gambar). Istilah di dunia desain, gambar atau ukuran bisa ditarik ulur sesuka hati tanpa berefek gambar pecah.
Adapun software yang digunakan untuk mendesain tipe vektor tersebut adalah Corel Draw, Adobe Illustrator, InkScape dan lainnya. Resolusi cetak standar yang digunakan adalah 300dpi sebagai syarat untuk cetak OFFSET. Standar warna yang digunakan adalah CMYK. Pertanyaan menarik kemudian adalah, bagaimana dengan Digital Printing? Apakah bisa dicetak dengan mesin tersebut?
Jawabannya bisa dengan syarat tergantung spesifikasi mesin cetak tersebut. Untuk mesin digital printing dengan spesifikasi Outdoor, CMYK rata-rata bahan yang digunakan adalah vinyl dan resolusi yang disyaratkan adalah 50 dpi – 150 dpi dengan ukuran cetak 150 cm (lebar). Apabila hasil desainnya menggunakan 300 dpi maka mesin cetak tersebut tidak akan mampu mencetak karena batasan nozzle print head yang terpasang adalah maksimum 150 dpi.
Apakah masih bisa dicetak? Bisa dengan dua cara yaitu resolusi diturunkan sesuai dengan spesifikasi teknis mesin cetak dimaksud. Atau, dicetak dengan menggunakan mesin digital printing berbasis cetak kertas. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana ukuran cetak desain tersebut? Ukuran cetak untuk kertas biasanya mengikuti standar kertas yaitu A4, A3, A2, A1 dan A0. Jika desain yang dimaksud adalah banner untuk outdoor dengan ukuran 500 x 120 (cm) maka yang dilakukan adalah menurunkan resolusi dari 300 dpi ke 50 dpi – 150 dpi. Seribet itukah? Nggak laa, tergantung kebutuhan dan tujuannya untuk apa. Maksudnya, mendesain untuk keperluan apa? Jika untuk desain berbasis kertas, gunakan ukuran kertas yang akan menjadi hasil akhir dan menyesuaikan dengan mesin cetak, lebih gampangnya ingin dicetak di mana.
Misalnya, cetak Poster ukuran A2, rencana bahan Art Paper 150 gsm atau Art Carton 210/240 gsm, maka yang diperlukan adalah tersediakah mesin cetak digital printing untuk ukuran A2? Jika tidak tersedia, proses cetaknya adalah dengan proses OFFSET. Jika tersedia? langkah berikutnya adalah mendesain dengan software vektor (Corel Draw, Adobe Illustrator, Inkscape) dan ukuran cetak atau bidang cetak/gambar adalah A2 dan resolusi 300 dpi, CMYK.
Bagaimana dengan mendesain banner? Mesin cetak digital printing memiliki spesifikasi cetak CMYK dan RGB tergantung tipe mesin dan produsennya. Lebih bijak bila seorang desainer mengetahui tipe mesin cetak dimaksud. Contoh, akan mendesain Banner/Poster ukuran 80 x 200 (cm) untuk Roll Up Banner. Mesin cetak yang tersedia misalnya Roland, RGB, 150 dpi (maks), lebar media 100 cm, file jpg, psd, tiff. Langkah terbaik adalah mendesain dengan software Bitmap yaitu Adobe Photoshop, resolusi 150 dpi, RGB, ukuran cetak/desain 80 x 200 (cm), file simpan psd dan file akhir jpg, psd dan atau tiff.
Kecuali mesin cetak dimaksud memiliki spesifikasi HP, CMYK, 150 dpi, lebar media 150 cm, file jpg, cdr, pdf, tiff. Langkah terbaik adalah menggunakan software Corel Draw (*.cdr), ukuran cetak 80 x 200 (cm), 150 dpi, CMYK dengan file simpan cdr dan file akhir cdr (menyesuaikan spesifikasi mesin). Langkah-langkah awal ini untuk meminimalisir kesalahan produksi (desain & cetak) ketika mengerjakan pekerjaan tersebut sehingga diharapkan hasil cetak sesuai dengan desain dimaksud.
Mari kita beralih ke Desain Grafis basis BITMAP.
Desain berbasis bitmap adalah yang paling menarik tetapi sekaligus paling menguras perasaan karena hasil akhirnya seringkali jauh dari harapan. Kesalahan utamanya adalah ukuran atau dimensi cetak/desain dan resolusinya. Seperti yang sebelumnya sudah dibahas bahwa dimensi gambar (image) meliputi ukuran bidang gambar, resolusi gambar atau kerapatan gambar yang ditandai dengan DPI (dot per inch) dan tipe warna RGB/CMYK. Secara umum, default warna untuk bitmap adalah RGB dan resolusi gambar di rentang 72 dpi – 300 dpi. Secara umum, yang dipilih adalah 50 dpi, 72 dpi, 90 dpi, 95 dpi, 100 dpi, 120 dpi, 150 dpi, 200 dpi dan 300 dpi, Default warna adalah RGB.
Image atau gambar untuk desain basis bitmap yang diutamakan adalah warna atau komposisi warna yang dihasilkan. Seringkali sebagai desainer bingung menentukan, resolusi gambar mengikuti foto yang akan diedit atau menentukan resolusi gambar menyesuaikan dengan mesin cetak? Bagi pemula, langkah pertama yaitu mengikuti resolusi foto sebagai bahan desain adalah langkah yang terbaik. Jebakannya adalah ukuran foto tersebut dengan rencana desain cetak yang kita inginkan. Jika match, it’s go on, baby. Jika tidak sesuai, final yang menyakitkan saudara-saudara.
Langkah terbaik apa sebenarnya yang harus diambil? Tentukan ukuran cetak yang diinginkan. Misalnya ingin mendesain banner untuk acara Pameran 17-an, area Indoor. Ukuran yang diinginkan sesuai permintaan panitia acara adalah 300 x 110 (cm). Data mesin cetak digital printing yang tersedia adalah Infinity, Eco Solvent, RGB, 160 cm, bahan yang tersedia adalah Flexy Korea, file jpg, tiff.
Pilihan terbaik adalah menggunakan Adobe Photoshop, ukuran bidang desain 300 x 110 (cm) resolusi 100 dpi. Bagaimana dengan foto yang akan menjadi background? Foto yang akan menjadi background, di-Place saja ke area desain tersebut. Umumnya fot dari kamera DSLR memiliki resolusi cukup tinggi yaitu 150 dpi dengan dimensi pixel yang besar, misalnya ukuran foto 3507 x 2480 (pixel), resolusi 200 dpi, RGB. Ukuran foto ini jika di-Place ke bidang desain tidak akan pecah atau BLUR dan ukuran masih bisa disesuaikan. Langkah berikutnya adalah menyelesaikan desain dan menyimpan hasil desain tersebut untuk siap dicetak dengan format terbaik jpg, psd atau tiff.
Desain basis Bitmap, secara pemakaian lebih luwes, saya menggunakan kata luwes sebagai ganti luas karena penerapannya lebih fleksibel tentunya dengan syarat & ketenntuan yang berlaku. Perkembangan teknologi internet dan aplikasi mobile, kebutuhan akan gambar untuk animasi, video, website sangat beragam. Dituntut kreatifitas tanpa harus membatasi diri pada ukuran karena yang dibutuhkan lebih ke pada imajinasi desainer, ukuran gambarpun kecil dengan resolusi standar website yaitu 72dpi. Warnapun yang dijadikan standar adalah RGB sehingga hasil foto dan editnya pun, tidak terlalu masalah karena tidak perlu lagi ada konversi.
Bagaimana dengan basis Vektor yang jika dilihat di skema tersebut juga bisa diaplikasikan untuk website dan animasi? Perkembangan teknologi yang sedemikian pesat, pada akhirnya memaksa produsen software berbasis vektor lebih terbuka untuk mengadopsinya. Saat ini jika file yang tersedia adalah berbasi vektor dan akan digunakan untuk aplikasi mobile dan web, dengan tujuan hasil atau outputnya tidak pecah/blur, file-file tersebut dikonversi ke dalam bentuk svg. Website yang dibangun dengan pemrograman HTML 5 saat ini mensyaratkan format tersebut.
Sekian dulu uraian singkat tentang desain grafis yang berkembang hingga saat ini dan sejauh yang saya ketahui & pahami. Semoga bermanfaat.