Thobari Nyantri

Kyai : Ri, .. nih pasang lampu di teras …

Tak berapa lama, santri Thobari pun kembali menemui Kyai.

Thobari : Kyai, … pangapunten, ndak sampe saya. lampunya tinggi, Kyai.

Dengan senyum khasnya, Kyai pun berjalan ke arah teras sambil berucap,

Kyai : Ambil tangga.
Thobari : iya, Kyai.

Setelah tangga sudah di teras, Thobari pun melipat sarungnya supaya mudah naik tangga segitiga yang baru saja diambil dari dapur santri.

Kyai : itu sarung nggulungnya jgn ketinggian …
Thobari : hehe, maap, Kyai.
Kyai : saklar lampunya sudah kamu matikan?
Thobari : belum.
Kyai : lhooo piye toh? … mudhun! matikan dulu!

Tergopoh-gopoh Thobari turun dan menuju ke ujung ruangan teras tempat di mana saklar lampu berada. Setelah itu segera kembali ke tangga yang sudah siap di ruang tengah teras.

Kyai : kamu itu, harus inget lampu itu kan murup kalo saklarnya dinaikkan. apa kamu mau kesetrum?
Thobari : hehe, ya ndak Kyai. saya masih pingin lulus.
Kyai : ya sudah, cepetan. ini bentar lagi maghrib.

Tanpa menjawab lagi, santri bandel itu akhirnya segera melepas lampu yang sudah mati untuk diganti dengan lampu yang baru. Dipastikannya lampu itu sudah terpasang dan kemudian turun.

Thobari : saya hidupin, ya, Kyai
Kyai : hmm.

Akhirnya teras pun sekarang sudah siap menerima tamu dan santri yang akan mengaji fikih sehabis sholat ‘Isya yang biasa diadakan setiap malam Kamis. Khusus malam nanti, Rabu malam alias malam Kamis selalu diadakan di ruangan teras sedangkan malam-malam lain diselenggarakan di masjid pesantren kecuali Sabtu malam dan Minggu malam diganti dengan sholawatan.

Thohari : naa .. sudah Kyai. dah terang sekarang.
Kyai : hehe, iya. naa itu lah kalo kamu berbuat baik kepada orang-orang. Barokah Allah seperti terangnya lampu di teras yang baru saja kamu pasang.
Thobari : maksudnya gimana, Kyai?
Kyai : hablum minallaah wa hablum minannaas. untuk mendapatkan ridla Allah adalah dengan berbuat baik kepada sesama, menebar kebaikan di mana saja. semakin baik, semakin banyak berbuat baik, bersedekah, makin banyak pahala dan barokah Allah. nah, makin luas, makin banyak yang kamu perbuat untuk berbuat kebaikan maka kamu perlu menempatkan lampu yang lebih tinggi supaya bisa diterangi oleh lampu. lampu itu ibarat barokah Allah dan tangga itu adalah caramu menggapai ridla Allah. makin tinggi lampu, makin luas pula sebaran terangnya lampu.
Thobari : oo … gitu.
Kyai : tangga balikin sana. malah ndomblong ..
Thobari : eh iya, hehehe, maaf, Kyai. matur nuwun wejanganipun.

Setelah mencium tangan Kyai, santri Thobari pun segera membawa tangga ke tempat semula di dapur santri sambil mikir yang disampaikan Kyainya.

@September2019, Pamulang.

Leave a Reply